Trending

Kemlu RI: Konflik Rusia-Ukraina harus selesai lewat usaha semua pihak - Beritaja

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Indonesia menilai bahwa Komunike Bersama bakal lebih efektif jika disusun secara inklusif dan berimbang,

Jakarta (BERITAJA) - Indonesia menilai bahwa bentrok antara Ukraina dan Rusia hendaknya diselesaikan melalui kesepakatan dan negosiasi yang melibatkan seluruh pihak dalam konflik, demikian menurut Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara II Kemlu RI Rolliansyah Sumirat untuk menjelaskan keputusan Indonesia tidak ikut menandatangani komunike berbareng dari konvensi tingkat tinggi (KTT) perdamaian di Ukraina baru-baru ini.

“Indonesia menilai bahwa Komunike Bersama bakal lebih efektif jika disusun secara inklusif dan berimbang,” demikian menurut Roy dalam pernyataan singkatnya yang diterima di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, pendirian itu merupakan pandangan utama Indonesia mengenai penyelesaian bentrok antara Ukraina dan Rusia yang diusahakan melalui KTT itu.

Konferensi yang berjalan pada 15—16 Juni di Burgenstock, Swiss itu diikuti lebih dari 90 negara, termasuk Ukraina. Namun, Rusia tidak menghadiri aktivitas tersebut.

Walau demikian, penyelenggaraan KTT perdamaian tersebut tetap selaras dengan posisi Indonesia bahwa sengketa dan bentrok antar negara mesti diselesaikan melalui jalan diplomasi, seperti perundingan.
Baca juga: Inggris: Perdamaian di Ukraina mesti diwujudkan sesuai syarat Kiev

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pun telah menunjuk Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya datang sebagai Utusan Khusus dalam pertemuan tersebut. “Kehadiran Utusan Khusus RI mencerminkan komitmen kuat Indonesia terhadap penegakan norma internasional dan Piagam PBB,” ucap Roy.

Roy mengatakan bahwa dalam agenda tersebut, Indonesia juga telah menegaskan pandangannya mengenai pentingnya menegakkan norma internasional, termasuk norma kemanusiaan dan Piagam PBB, tidak hanya di Ukraina namun juga di Jalur Gaza yang saat ini tetap terus digempur Israel.

KTT perdamaian di Ukraina tersebut diikuti oleh lebih dari 90 negara, namun komunike berbareng yang dihasilkan dalam agenda tersebut didukung oleh hanya 80 negara dan empat organisasi internasional.
Baca juga: Jerman tuduh Rusia sengaja targetkan ekonomi dan daya Ukraina

Sebanyak 16 negara dan organisasi, termasuk Indonesia, Libya, Arab Saudi, Thailand, India, Meksiko, Afrika Selatan, Brasil, dan Uni Emirat Arab memutuskan untuk abstain dalam komunike tersebut.

Komunike berbareng tersebut mencakup tiga topik yang bakal diupayakan oleh negara-negara. Pertama, setiap penggunaan daya nuklir dan instalasi nuklir mesti aman, terlindungi, dan ramah lingkungan.

Kedua, ketahanan pangan tidak boleh dipersenjatai dengan langkah apa pun. Serangan terhadap kapal jual beli di pelabuhan dan di sepanjang rute, serta terhadap pelabuhan sipil dan prasarana pelabuhan sipil, tidak dapat diterima.

Ketiga, semua tawanan perang mesti dibebaskan melalui pertukaran penuh. Semua anak-anak Ukraina yang dideportasi dan dipindahkan secara tidak sah, serta semua penduduk sipil Ukraina lainnya yang ditahan secara tidak sah, mesti dikembalikan ke Ukraina.

Baca juga: Sunak: Ukraina bebas putuskan gimana gunakan senjata pasokan Barat
Baca juga: Putin cantumkan syarat mengawali perundingan perdamaian dengan Ukraina


Editor: Mahfud
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close