Trending

Menggapai hakikat haji sebelum pergi ke tanah suci - Beritaja

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

JAKARTA (BERITAJA) - Haji adalah perjalanan spiritual menuju Baitullah (rumah Allah), bukan sekadar berjalan bentuk ke suatu titik geografis di Tanah Suci Makkah. Karena itu tidak perlu sampai menghalalkan segala langkah untukmampu pergi ke sana, karena Baitullah yang sesungguhnya ada di dalam qalbu. Karena haji merupakan penyempurnaan penghambaan diri kepada Sang Khalik, maka pastikan dalam melaksanakannya dengan kesadaran rohani yang telah menyala.

Ibadah Haji, rukun Islam kelima, tidak semua umat Islammampu menunaikannya lantaran aspek jarak, biaya, dan birokrasi penyelenggaraan yang membikin seseorang mesti mengikuti antrean hingga puluhan tahun. Modal punya duit saja, tak serta-mertamampu pergi ke Makkah untuk berhaji lantaran banyaknya persyaratan yang mesti dipenuhi, termasuk kesehatan badan serta (apalagi) terbatasnya kuota.

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia. Berdasarkan laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) berjudul The Muslim 500: The World's 500 Most Influential Muslims 2024, jumlah populasi Muslim di Indonesia mencapai 240,62 juta jiwa pada 2023. Angka itu setara 86,7 persen dari total populasi nasional yang berjumlah 277,53 juta jiwa.

Sementara kuota haji Indonesia tahun ini sejumlah 241.000 orang, terdiri atas 213.320 orang haji reguler dan 27.680 orang haji khusus. Ini merupakan kuota haji terbanyak dalam sejpetunjuk penyelenggaran ibadah haji Indonesia. Meski begitu, kuota tersebut tetap terbilang mini jika dibanding jumlah antrean yang mencapai 5,3 juta pendaftar.

Obsesi kaum Muslim untuk berhaji sangatlah tinggi, apalagi bukan saja dari kalangan berpunya yang beriktikad melaksanakannya. Di setiap musim haji, ada saja cerita mengharukan dari kaum ayah yang gigih berjuang mengumpulkan duit receh bertahun-tahun demimampu pergi ke Makkah.

Ada yang berjuang mati-matian untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan segala keterbatasannya, namun adapula yangmampu naik haji acapkali lantaran kelimpahan ekonomi yang mungkin "menyerobot" antrean dan mengambil jatah kuota orang lain.

Mengingat masa tunggu jutaan orang yang mengharap dapat berangkat ibadah ke tanah suci, maka haji berkali-kali, meski tidak ada larangan dalam agama,mampu menjadi "dosa sosial besar" lantaran sikap egoisnya telah menghilangkan kesempatan orang lain untuk beribadah.

Ibadah, jika diniatkan untuk Allah semata, tentu tidak bakal dilakukan dengan langkah curang lantaranmampu menodai keutamaannya. Kecuali kepergian haji yang bermaksud meraih prestise alias sekadar berburu gelar. Padahal Nabi Muhammad SAW saja tidak pernah menggunakan gelar "haji", lantaran memang makna haji secara harfiah adalah visitor alias orang yang sengaja mengunjungi (Baitullah), sehingga julukan itu hanya relevan selama jamaah berada di Makkah.

Konon, tanah suci hanya menerima tamu Allah yang datang dengan niat bersih tanpa embel-embel motivasi duniawi. Jika syarat itu tidak terpenuhi,mampu jadi seorang calon haji memperoleh "teguran" langsung dari Allah melalui beragam isyarat alias perilaku asing dan tidak lazim.

Setiap tahun, sekitar 1,8 juta orang Islam dari beragam negara menunaikan ritual ibadah haji di Makkah al Mukarromah, sepulangnya mereka, khususnya jamaah dari Indonesia, menyandang gelar "haji", namun tidak otomatis setiap personil jamaah memperolehnya dari Allah SWT namalain mabrur.

Esensi haji

Bila Anda termasuk orang yang belum sempat berangkat haji atas argumen keahlian ekonomi alias giliran yang belum datang, jangan berkecil hati, apalagi patah arang, mengingat antrean yang begitu panjang.

Perjalanan haji ke tanah suci adalah ibadah ritual secara syari’ah, di mana kaum Muslim berjamu ke Baitullah dalam bentuk fisik, ialah Ka'bah. Agar dalam ritual itu memperoleh nilai dan esensi, seseorang haruslah datang dengan kesadaran sepenuhnya, baik badan, pikiran, dan rohaninya saat itu. Tidak ada hal-hal duniawi, seperti pekerjaan, kekayaan benda, kebun alias ternak yang ditinggalkan di rumah sempat terlintas di pikiran, hingga mengganggu kekhusyukan beribadah.

Alangkah ruginya jamaah yang sudah memperoleh kesempatan berangkat ke negeri para rasul itu, namun menyia-nyiakan waktu hanya lantaran tidak menghadirkan diri seutuhnya. Padahal, ada jutaan orang yang terus bermohon dalam masa tunggunya untuk dapat disegerakan pergi haji.

Bagi Anda yang bersungguh-sungguh mau berhaji, jangan hanya berfokus menunggu panggilan untuk diberangkatkan ke Makkah. Sebelum obsesi itu tercapai, Anda pun malahmampu berhaji secara esensi. Kitamampu berhaji kapan saja, tanpa biaya, tanpa ke mana-mana, lantaran pada hakikatnya rumah Allah amatlah dekat.

Haji bukanlah perjalanan dari Jakarta (atau kota tempat kita tinggal) ke Makkah, melainkan perjalanan meniti ke dalam diri terdalam, karena Baitullah yang sejati itu ada di dalam qalbu. Seperti Sabda Nabi SAW "Qolbu mukmin Baitullah", qalbu orang yang beragama itu adalah rumah Allah".

Hal ini diperkuat dengan beberapa ayat dalam Al Quran yang seolah menegaskan acapkali bahwa Allah itu dekat, apalagi sangat dekat.

Dalam Surat Al Baqpetunjuk ayat 186 disebutkan, "Dan andaikan hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat…...".

Kemudian Surat Qaf ayat 16, "....dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya".

Karena qalbu merupakan bagian terdalam dari diri kita, maka untuk melakukan perjalanan ke sana mesti terlebih dulumampu "menembus" jasad (lapisan terluar dari diri), kemudian melalui jiwa baru sampai ke qalbu. Artinya, dalam beragama tidak lagi sekadar aktivitas raga yang dilakukan pada tataran ritual. Lebih dari itu ibadah adalah pengabdian kepada Sang Pencipta, hinggamampu menggetarkan jiwanya lantaran kesadaran rohani yang menyala.

Selanjutnya berhaji secara asasi dapat memetik hikmah dari serangkaian ritual, seperti thawaf, sa’i, hingga wukuf.

Thawaf yang diperagakan dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dari samping kiri alias melawan petunjuk jarum jam dan dimulai dari Hajar Aswad. Bila kita cermati, Hajar Aswad berbentuk menyerupai kemaluan wanita, mencium batu hitam itu merupakan simbol mencintai orang tua, untuk menyadarkan bahwa kita pernah berada dalam rahim ibu.

Rangkaian haji adalah napak tilas jejak ibu (Hajar Aswad), bapak (Maqam ), anak (Ismail, dalam Sa'i). Ketiganya adalah potret rumah tangga selaras yangmampu membangun "baiti jannati" (rumahku surgaku).

Lalu, kenapa thawaf dilakukan dengan melawan petunjuk? Maknanya agar kita selalu ingat untuk kembali, lantaran intinya adalah kembali kepada-Nya. Mengenai busana ihram yang tidak berjahit, itu layaknya kain kafan yang kelak kita kenakan saat meninggalkan bumi fana ini.

Ketika kita kembali ke rumah kesejatian mesti melepaskan semua identitas, termasuk pangkat, jabatan, dan status sosial. Pakaian ihram yang dipakai ketika memasuki Baitullah adalah simbol dari lepasnya semua identitas, bahwa manusia semua sama, seorang hamba. Thawaf dengan busana ihram menggambarkan kesederhanaan, kesetiaan, dan ketaatan seorang hamba kepada yang Maha Kuasa.

Sementara Sa'i merujuk pada perjalanan Hajar, istri Nabi AS, antara bukit Safa dan Marwah yang mencari air untuk putranya Isma'il AS. Pelajaran dari sa'i adalah tentang kegigihan dalam upaya, pantang menyerah seraya dibarengi dengan kepercayaan pada kuasa Tuhan.

Selanjutnya, sampailah pada puncak haji, ialah wukuf di Padang Arafah. Wukuf berfaedah berdiam, hening, dan kosong, mengosongkan pikiran dan hanya menyisakan untuk Allah berdomisili di dalamnya.

Padang Arafah artinya tempat mengenal, yangmampu diartikan sebagai letak secara bentuk dapat pula dipahami sebagai ilustrasi. Di dalam diri manusia terdapat qalbu, tempat terbaik untuk mengenal Tuhan.

Mengambil dan mengamalkan makna dari seluruh rangkaian ritual haji bakal menjadikan kita manusia mulia. Jika tidak (mabrur), perjalanan haji ke tanah suci tanpa kesadaran rohani,mampu jadi tidak ada bedanya dengan wisata religi belaka.

Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close