Trending

Pakar bantah kemasan AMDK berbahan polikarbonat sebabkan anak autis - Beritaja

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta (BERITAJA) - Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) membantah bahwa air minum dalam bungkusan (AMDK) galon guna ulang biru berbahan polikarbonat menyebabkan anak terkena autisme.

“Tidak ada kajian tentang pengaruh air dari galon guna ulang biru dengan penyakit autis pada anak, belum ada buktinya juga,” kata Rini di Jakarta, Senin.

Rini menuturkan belum ada bukti yang jeli menyangkut perihal tersebut. Meski dulu pernah ada penelitian yang mendukung pengaruh unsur tembaga logam terhadap penyebab autis, namun tidak ada konklusi yang membenarkan perihal tersebut.

Akhirnya, penelitian mengenai hubungan keduanya makin jarang dilakukan dan pencarian penyebab autis tidak lagi jadi perhatian sampai saat ini.

Baca juga: Produsen AMDK siap berkolaborasi dengan pemerintah atasi persoalan air

Baca juga: Pakar industri plastik pastikan bungkusan produk AMDK aman

Menurutnya, air galon guna ulang biru itu justru sangat baik untuk kesehatan lantaran mengandung mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia lantaran mengandung mineral.

“Kalau dikatakanmampu menyebabkan autis, semestinya sudah banyak anak-anak di Indonesia yang menderita autis lantaran yang minum air galon kan banyak. Tapi, nyatanya, yang autismampu dihitung jari,” ucap Rini.

Sejauh ini, autisme diketahui disebabkan oleh adanya masalah alias gangguan perilaku pada anak yang disebabkan banyak faktor, salah satunya aspek genetik.

Beberapa aspek akibat lain yang telah teridentifikasi seperti riwayat prematur, riwayat tegang pada masa bayi, dan lantaran jangkitan masa lampau.

“Biasanya pada anak autis kita enggak mencari pasti penyebabnya. Pemeriksaan dpetunjuk, CT Scan, biasanya tidak kita lakukan, kita langsung masuk ke intervensi untuk penanganannya,” katanya.

Ia menjelaskan indikasi yang ditemukan pada anak penderita autis adalah mereka mempunyai keterlambatan bicara dan kontak mata yang kurang, tidak dapat bersosialisasi, melakukan beberapa aktivitas berulang tanpa tujuan seperti melirik, menjejerkan benda, memutar roda, dan terkadang disertai perilaku hiperaktif.

Dalam beberapa kasus, anak-anak dengan autisme juga suka mengalami alergi makanan seperti susu sapi dan makanan laut. Sehingga penanganannya dilakukan tergantung gejalanya.

Lebih lanjut Rini menjelaskan keppetunjukan autisme sendiri dapat dibagi jadi ringan, sedang dan berat. Dimana pendeteksian keppetunjukan ditentukan menggunakan perangkat skrining berupa kuesioner M-CHAT-R.

Anak yang masuk dalam kategori autis ringan, katanya biasa mempunyai indikasi dapat melakukan kontak mata meski hanya sebentar. Berbeda dengan kategori sedang dimana anak tidak cuek namun tidak ada kontak mata.

“Tapi, yang sama sekali cuek dan enggak ada kontak mata biasanya kita masukkan kategori autis berat,” katanya.

Terkait dengan kondisinya, terdapat potensi untuk diperbaiki dengan mengembangkan keahlian anak melalui beberapa jenis terapi. Termasuk pengulangan jenis terapi yang meliputi terapi perilaku, terapi sensorik integrasi, okupasi dan terapi bicara meski memerlukan waktu yang cukup panjang.

“Karena autis itu merupakan gangguan perilaku, jadi penangananya juga mesti dengan memperbaiki perilakunya.

 Terapinya dilakukan dengan beragam cara, ada terapi sensor integrasi, ada okupasi, ada terapi bicara, dan terapi perilaku,” ujar dia.

Baca juga: BPKN-YLKI minta BPOM wajibkan cantum kadar bromat air minum kemasan

Baca juga: YKMI dan MUI minta publik tak termakan hoaks rumor bromat di air mineral

Baca juga: KPPU: Perdebatan galon BPA mengpetunjuk ke manipulasi persaingan


Editor: Mahfud
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close