Trending

Profesor kedokteran Korsel mogok kerja tanpa batas waktu - Beritaja

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Seoul (BERITAJA) - Para guru besar kedokteran yang bekerja di rumah-rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas Nasional Seoul (SNU) pada Senin mulai melakukan pemogokan tanpa pemisah waktu, menurut sekelompok pasien.

Sekitar 55 persen guru besar diperkirakan bakal berasosiasi dalam aktivitas menentang reformasi medis pemerintah.

Sebanyak 529 guru besar di empat rumah sakit telah menyatakan tekad untuk mogok kerja. 

Keempat rumah sakit yang dimaksud itu adalah Rumah Sakit SNU, Rumah Sakit SNU Bundang, Pusat Medis SNU Boramae Pemerintah Metropolitan Seoul, dan Pusat Sistem Perawatan Kesehatan Rumah Sakit SNU Gangnam Center.

Namun, ruang darurat gawat dan perawatan untuk pasien yang sakit kritis tidak bakal terpengaruh, kata pejabat rumah sakit.

"Kami hanya menghentikan perawatan bagi pasien yang dapat menerima perawatan di rumah sakit lain alias yang kondisinya tidak bakal terpengaruh oleh penundaan sementara dalam perawatan," kata komite darurat guru besar kedokteran SNU.

"Sementara rumah sakit bakal terus memberikan perawatan bagi pasien dengan penyakit kritis alias langka, jumlah perawatan sebenarnya bakal berkurang sebesar 40 persen lantaran pemogokan tersebut," ujar komite itu. 

Meski ada protes keras dari para master yang tetap magang, pemerintah akhirnya menyelesaikan kenaikan kuota penerimaan sekitar 1.500 mahasiswa kedokteran pada akhir bulan lalu

Kenaikan itu merupakan peningkatan pertama dalam 27 tahun.

Sebuah golongan pembelaan pasien mendesak para guru besar kedokteran SNU untuk tidak mogok, dan menyoroti bahwa keadaan pasien dengan indikasi yang tidak kritis juga mengkhawatirkan--seperti halnya pasien-pasien yang mempunyai kondisi serius.

"Mengambil untung dari kekhawatiran dan kerugian yang dialami pasien untuk menekan pemerintah adalah langkah yang tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun," kata Organisasi Aliansi Pasien Korea melalui pernyataan.

Organisasi itu menambahkan bahwa keselamatan pasien mungkin dipertaruhkan jika para guru besar kedokteran melakukan pemogokan, lantaran jasa medis telah terganggu akibat pemogokan master junior yang telah berjalan selama nyaris empat bulan.

Sementara itu, pemerintah mendesak para ketua rumah sakit SNU untuk tidak mengizinkan pemogokan serta agar mempertimbangkan untuk mewajibkan para guru besar mengganti kerugian yang ditimbulkan oleh rumah sakit akibat tindakan kolektif tersebut.

Pemogokan yang dilakukan oleh para guru besar kedokteran SNU terjadi sehari sebelum pemogokan master umum berskala nasional dijadwalkan berjalan pada Selasa. 

Pemogokan massal itu diselenggarakan oleh Asosiasi Medis Korea (KMA), yang adalah golongan lobi master terkemuka di Korea Selatan.

Pemerintah telah memerintahkan para master umum untuk terus memberikan perawatan medis dan melaporkan kepada pihak berkuasa jika mereka menutup praktiknya pada hari terjadinya mogok kerja.

Pemerintah bakal mengeluarkan perintah lain bagi master umum untuk kembali bekerja jika lebih dari 30 persen dari mereka berasosiasi dalam tindakan mogok yang direncanakan.

Sehari sebelumnya, KMA mengumumkan bakal mempertimbangkan untuk menunda pemogokan jika pemerintah setuju untuk mengawali kembali obrolan mengenai peningkatan kuota sekolah kedokteran dari awal.

Pemogokan, menurut mereka, jugamampu ditangguhkan jika semua perintah administratif yang dikeluarkan terhadap master peserta training yang telah meninggalkan rumah sakit sejak Februari dibatalkan.
 
Namun, Kementerian Kesehatan menolak permintaan tersebut. 

Kemenkes Korsel menyatakan "tidak layak bagi KMA untuk mengusulkan tuntutan kebijakan kepada pemerintah dalam kondisi pemogokan ilegal."

Sumber: Yonhap-OANA

Baca juga: Dokter Korsel mungkin batal mogok jika pemerintah terima 3 tuntutan

Baca juga: Pasien SNU tuntut pembatalan mogok para dokter, ancam tindakan hukum

Korea Utara kirim 200 lebih balon udara berisi sampah ke Korea Selatan

:
Editor: Mahfud
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close