Trending

Warga Yerusalem Timur tak rasakan kebahagiaan Idul Adha karena perang - Beritaja

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Yerusalem (BERITAJA) - Idul Adha bagi rakyat Palestina di Yerusalem Timur kali ini terasa berbeda dari biasanya, lantaran agresi Israel yang tak kunjung henti terus mendera kerabat mereka di Jalur Gaza.

Serangan Israel yang sudah berjalan lebih dari delapan bulan itu meredupkan semangat dan aktivitas ekonomi masyarakat Palestina di Yerusalem Timur dan Tepi Barat dalam menyambut hari raya Islam untuk memperingati pengorbanan family Nabi tersebut.

Karena suasana yang muram dan tekanan ekonomi yang tak ada tanda berakhir, aktivitas di pasar-pasar Yerusalem Timur pun lesu.

Kelesuan tersebut terlihat salah satunya dalam perniagaan hewan kurban di Abu Dis, sebuah kota yang meskipun berbatasan langsung dengan Yerusalem Timur, terpisah lantaran adanya tembok pembatas Israel. Tembok pemisah tersebut mengungkung rakyat Palestina di sana.

Seperempat dari 450 ribu lebih penduduk Palestina di Yerusalem Timur takmampu leluasa bergerak ke area lain lantaran dibatasi oleh tembok pembatas yang dibangun Israel pada 2003 itu.

Kawasan pemukiman padat masyarakat seperti Abu Dis merupakan satu dari sejumlah wilayah yang terputus dengan Yerusalem. Warga Palestina yang tinggal di sana mau tak mau mesti melewati pos pemeriksaan Israel setiap kali mereka hendak bekerja alias bersekolah.

Tembok pemisah itu juga merintangi nyaris 3 juta penduduk Palestina di Tepi Barat dari berjalan ke Yerusalem Timur.

Terisolasinya Yerusalem Timur dari area Palestina di Tepi Barat pun semakin terasa dalam hari-hari raya seperti Idul Adha. Bagi jutaan rakyat Palestina pun, melaksanakan ibadah di Masjid Al Aqsa, meski tampak di pelupuk mata, hanya menjadi angan belaka.

Tembok yang memecah kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Palestina di Yerusalem Timur itu, menurut laporan PBB, menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 194 juta dolar AS (Rp3,18 triliun) bagi Palestina setiap tahunnya.

Baca juga: 40.000 muslim Palestina laksanakan salat Idul Adha di Masjid Al-Aqsa

Dekat namun jauh

Apabila tak ada halangan, berjalan dari pusat kota Yerusalem Timur ke Abu Dis yang berjarak hanya beberapa kilometer sebenarnya cukup memerlukan waktu beberapa menit

Namun, untuk mencapai Abu Dis saat ini, penduduk Palestina mesti mengambil jalan memutar dan melintasi pos pemeriksaan Israel maupun pemukiman Israel yang didirikan secara terlarangan di Tepi Barat. Hal ini membikin perjalanan menyantap waktu hingga satu jam.

Ghazi Jawhar, kepala Asosiasi Hewan Ternak Abu Dis, mengatakan, dua wilayah yang bersisian tersebut sekarang betul-betul terpisah akibat tembok pembatas Israel.

Menurut dia, hewan ternak adalah salah satu sumber pemasukan Abu Dis dan merupakan sumber pemasukan utama bagi masyarakat setempat. Namun, agresi Israel membikin tantangan yang dihadapi masyarakat di Tepi Barat semakin berat.

“Sudah nilai gabah naik lantaran perang Ukraina, situasi terkini (perang di Gaza) pun semakin berakibat jelek bagi hewan ternak kecil,” kata dia.

Ia mengatakan, rasa duka banget terasa di hati seluruh rakyat Palestina akibat agresi Israel di Jalur Gaza. Mereka pun takmampu berbahagia merayakan Idul Adha.

“Kami semestinya merasakan suasana Idul Adha saat ini, tetapi perihal tersebut jelas tak terjadi lantaran perang,” kata Jawhar.

Karena agresi militer Israel di Gaza, ucap dia, lebih dari 300.000 penduduk Palestina yang bekerja di Israel sudah lebih dari delapan bulan ini takmampu melanjutkan kerjanya.

Pejabat Otoritas Palestina (PA) pun tak luput terakibat. Ia mengatakan, lantaran tindakan Israel, mereka tak menerima gajinya secara penuh.

Dampak ekonomi agresi Israel ke Jalur Gaza juga membikin pedagang hewan ternak kesulitan mengatur harga. Kondisi permintaan dan penawaran saat ini tidak memberi ruang bagi pedagang untuk menurunkan harga, kata Jawhar.

“Pakan ternak mahal, tapi permintaan sangat rendah. Kami sebenarnya mau membantu rakyat mengenai (meringankan) harga. Namun, peperangan yang terjadi dan merosotnya pemasukan di Tepi Barat berakibat jelek atas kondisi saat ini” ucap dia.

Baca juga: UNRWA laporkan upaya pembakaran markasnya oleh Israel di Yerusalem

Hari raya tak terasa

Sementara itu, Mohammad Abo Helal, seorang peternak di Abu Dis, mengatakan bahwa dia kesulitan mempertahankan peternakannya di tengah kesulitan yang dihadapi, apalagi dengan terbatasnya akses lantaran tembok pembatas Israel.

“Kami pun betul-betul terakibat perang. Saat ini, masyarakat tengah sedih dan suasana hari raya pun tiada,” kata dia, menceritakan akibat perang terhadap kehidupan masyarakat.

Ia mengatakan bahwa permintaan hewan ternak untuk Idul Adha kali ini menurun lantaran harganya yang terus naik. “Tampaknya, tren permintaan yang rendah seperti ini bakal berlanjut,” ucapnya.

Abo Helal juga menyoroti pendudukan Israel di Tepi Barat dan agresi Israel di Jalur Gaza banget berakibat bagi dirinya.

“Peternakan kami kecil. Kami pun takmampu memperluas peternakan ini lantaran pendudukan Israel,” kata dia.

“Kami sama sekali tidak merasakan kebahagiaan ataupun suasana hari raya. Rasanya hanya ada perang dan pendudukan di mana-mana,” ucap Abo Helal.

Selain itu, peternak lain berjulukan Suleiman Mosa mengeluhkan penurunan jumlah hewan ternak yang dipeliharanya akibat tekanan ekonomi dari pendudukan Israel.

“Ayah saya dulumampu memelihara hingga ratusan ternak,” ucap dia.

Tapi sekarang, kata Abo Helal, dirinya dan saudaranya hanyamampu memelihara beberapa ekor saja.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Israel perintahkan UNRWA kosongkan kantornya di Yerusalem Timur
Baca juga: Militer Israel bakal bagikan senjata untuk pemukim terlarangan di Tepi Barat

:
Editor: Mahfud
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close